Hai pembaca!!! ininih resensi dari buku agama yang ada di universitas brawijaya...isi bukunya lumayan banyak bab-nya jadi sedikit pemahaman yang lumayan yaa!!!:)
JUDUL
BUKU : BUKU DARAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
PENERBIT :
Pusat Pembinaan Agama (PPA) Universitas Brawijaya
EDITOR : Drs. M. Subky Hasby, M.Ag.
PENULIS : Prof. Dr. Thohir Luth, MA. Dkk
Pembicaraan
tentang agama merupakan suatu permasalahan yang tidak mudah. Dalam mengartikan
agama, banyak berpendapat akan arti
agama yang berasal dari perspektif yang berbeda-beda. Banyak para ahli yang
berpendapat bahkan mereka sampai mengkhususkan artian bagi agama-agama yang
berbeda juga. Para ahli psikologi melakukan pendekatan terhadap agama melalui
hubungan atau dorongan-dorongan antara apa yang ada di dalam diri individu
dengan lingkungan di luar dirinya. Sedangkan menurut ahli sosiolog, agama
dianggap sebagai suatu fenomena social dengan melihat kelembagaan suatu agama
dan perilaku para pemeluk agama.
Dalam buku “Daras” ini terdapat kelebihan dan kekurangan didalamnya, buku ini tergolong
lengkap dan terperinci bahkan sampai menjelaskan yang belum pasti dipahami
pembaca. Namun, selain mempunyai kelebihan terdapat kekurangan dalam buku ini
yakni bahasa yang digunakan penulis sulit dipahami bagi pembaca, sehingga dalam
membaca buku ini dibutuhkan wawasan yang lebih.
Buku
ini membahas tentang agama dan ruang lingkupnya. Banyak para ahli yang mengemukakan
pendapatnya mengenai pengertian tentang makna agama. Namun , makna agama yang
dapat diterima oleh semua agama merupakan hal yang mustahil. Oleh karena itu,
makna agama pada materi ini hanya sebatas pengertian agama dalam pandangan islam. Terdapat 2
fungsi agama, yaitu fungsi maknawi dan fungsi identitas. Agama merupakan
sesuatu hal yang penting sebagai pedoman hidup. Alasan mengapa agama menjadi
hal yang sangat penting bagi manusia adalah karena agama merupakan sumber
moral, sumber informasi, petunjuk kebenaran dan bimbingan rohani bagi manusia
baik senang maupun susah. Tanpa itu semua, manusia akan merasa kacau dan serasa
hidup tanpa arah. Agama islam merupakan agama yang diridhai Allah. Islam dapat
bermakna segala sesuatu yang tunduk dan patuh kepada kehendak Allah. Agama islam merupakan agama yang diturunkan
Allah kepada manusia melalui nabi Muhammad. Agama islam mengandung 3 komponen.
Pertama, aqidah atau keyakinan yaitu keyakinan akan Allah dan rasul-rasul-Nya
untuk menyampaikan ajaran Allah kepada manusia. Kedua, syariat yaitu aturan
Allah tentang pelaksanaan dan penyerahan diri secara total melalui proses
ibadah kepada Allah. Ketiga, akhlak yaitu pelaksanaan ibadah kepada Allah dan
bermuamalah dengan sesama makhluk dengan penuh keikhlasan.
Konstruksi Pemahaman Ketuhanan dalam
Islam, ada yang mengatakan bahwa Tuhan
dapat dibedakan melalui teori evolusionisme yaitu dinamisme, animism,
politeisme, henoteisme, monoteisme. Teori evolusionisme kemudian ditentang oleh
sarjana-sarjana di Eropa barat dan memperkenalkan teori baru untuk memahami
sejarah agama. Imam Hanafi membuktikan kekuasaan Allah dengan adanya
bermacam-macam ragam kehendak manusia, Imam Syafi’i membuktikan kekuasaan Allah
dengan memperhatikan dari sebuah jenis daun tmbh-tumbuhan yag dapat berubah
menjadi bermacam-macam contohnya saja seperti ulat sutera yang memakan daun.
Keberadaan
alam ini
juga sudah membuktikan bukti bahwa Tuhan itu ada. Karena jelas sejak manusia
lahir di bumi sudah mendapati bumi itu ada. Gerak alam di bumi ini juga
membuktikan keesaan
Allah, bagaimana
bulan dan bintang tidak berbenturan, bola yang melambung lalu bias jatuh
kembali, dan bintang yang sekian banyak hingga tidak dapat dihitung.
Karena
itu pembuktian adanya Tuhan dilakukan dengan pendekatan fisika, pendekatan
astronomi, pendekatan teori big bang, dan
pembuktian dengan DNA. Setelah pembuktian-pembuktian tersebut lalu
muncul ajaran Tuhuid yaitu ajaran awal dan akhir dari seruan Islam. Ajaran ini
adalah ajaran sepanjang sejarah manusia, ajaran dari tiap-tiap Nabi da Rasul.
Sejak dari Nabi Adam AS, Idris AS, Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Daud AS, Isa
AS, sampai pada zaman Nabi Muhammad SAW.
Petunjuk Islam tentang Alam Semesta. Teori
yang berlaku pada abad ke-20 ialah alam semesta mempunyai ukuran yang tidak
terbatas, ada tanpa awal dan terus ada untuk selama-lamanya. Pandangan tersebut
disebut sebagai model alam statis yang mengacu pada filsafat materealis menolak
adanya Pencipta.
Di awal abad ke-21 dengan eksperimen,
observasi, dan perhitungan, fisika modern telah membuktikan bahwa alam semesta
memiliki suatu awal dan diciptakan dari ketiadaan melalui ledakan dahsyat. Alam
semesta terjadi karena adanya Ledakan Dahsyat (Bing Bang) tersebut. Seperti yang disebutkan dalam Qs.al-Anbiya`
ayat ke 30 dan Qs.al-Dzariyat ayat ke 47.
Para ilmuwan menerima teori Ledakan
Dahsyat tersebut dengan bukti ditemukannya jumlah hydrogen dan helium di ruang
angkasa dengan jumlah yang sama seperti keadaan setelah ledakan dahsyat
terjadi. Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan begitu seimbang
dan dengan desain yang begitu menawan
tanpa ada kesalahan sedikit pun. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan
adanya Sang Pencipta Yang telah menciptakan dan mengatur semua makhluk namun
hanya Allah lah yang mengetahui kapan hari akhir tersebut datang. Sesuai dengan
Qs. Al-Qamar ayat ke 6.
Manusia senantiasa keliru dalam memahami dirinya.
Kadangkala ia cenderung untuk bersikap superior, sehingga memandang dirinya
sebagai makhluk yang paling besar dan agung di alam ini. Bahkan
superioritas ini diserukannya dengan
penuh keakuan, kecongkakan dan kesombongan.
Islam telah menjelaskan hakikat dan asal diri manusia,
keistimwaan dan kelebihannya, tugasnya di dalam hidup, hubungannya dengan alam,
serta kesiapannya untuk menerima kebaikan dan keburukan. Hakikat dan asal diri
manusia berpangkal pada dua asal: asal yang jauh, yaitu kejadian pertama dari
tanah, ketika Allah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ruh ciptaan-Nya
kepadanya; dan asal yang dekat, yaitu kejadian kedua dari nuthfah. Untuk
menjelaskan kedua asal tersebut Allah berfirman yang artinya:
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia
ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia
menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan
bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali
bersyukur.” (as-Sajdah: 7-9)
Selain itu Al-Qur’an juga mengatakan bagaimana Allah menciptakan Adam:
‘’ Dan (ingatlah), ketika
Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan
seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang
diberi bentuk, Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud.” (al-Hijr: 28-29)
Di antara hal yang memuliakan dan melebihkan manusia
adalah bahwa Allah telah meberikan kepadanya kemampuan untuk belajar dan
berpengetahuan, serta membekalinya dengan segala peralatan kemampuan ini.
Tugas paling luhur manusia ialah beribadah kepada
Allah. Inti seluruh tanggung jawab ini adalah tanggung jawab manusia terhadap
ibadah kepada Allah dan pentauhidan-Nya; yakni memurnikan ibadah hanya kepada
Allah Semata. (Abdurrahman an-Nahlawi, 1996: 52-65).
Implementasi Iman &
Taqwa dalam Kehidupan Modern, Adapun tanda-tanda
orang yang beriman terdapat pada al-quran, tanda tersebut salah satunya ialah
jika disebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah
tidak terlepas dari syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat al-quran, maka
bergejolak hatinya (al-Anfal:2). Sedangkan pengaruh iman terhadap kehidupan
manusia sangat besar, pengaruhnya antara lain: iman melenyapkan kepercayaan
pada kekuasaan benda; iman menanamkan semangat berani menghadapi maut; iman
menanamkan sikap “self help” dalam kehidupan; iman memberikan
ketentraman jiwa; dan lain-lain.
Taqwa adalah derajat tertinggi di
sisi Allah(al-Hujurat:13), yang dicapai setelah orang beriman melaksanakan
ketaatan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Adapun hubungan
dari iman dengan taqwa telah dijalaskan pada surah Ali-Imran ayat 133-135.
Taqwa dan iman keduanya tidak bisa dipisahkan, keduanya bersifat integral, dan
komplementer, baik berhubungan Hablun minallah maupun Hablun minan naas,
senagaimana tergambar pada cirri-ciri orang bertaqwa dalam al-quran surah
Al-Baqarah ayat 2-4.
Dalam kehidupan modern yang
ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, komunikasi dan
transportasi menbuat hubungan antar Negara menjadi tanpa batas, yang disebut
globalisasi. Mayoritas tokoh-tokoh terkemukan meramalkan bahwa pada abad ini
akan banyak melahirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan juga menimbulkan
kecendrungan destruktif, kecendrungan yang merusak serta harus diwaspadai
dampaknya bagi keimanan dan ketaqwaan kita.
Pemahaman dan Penerapan Hukum Islam. Hukum islam adalah hukum yang
bersumber dan merupakan bagian dari ajaran islam. Ada dua istilah yang
berhubungan dengan hukum islam yaitu al-syari’ah dan fiqh. Syari’at merupaka
hukum islam yang di tetapkan secara langsung dan tegas oleh Allah SWT. Fiqh
merupakan hukum yang ditetapkan pokoknya saja. Kategori syariat bersifat
konstan dan tidak bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Kategiri fiqh
bersifat fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Syari’at dan fiqh berbeda tapi tidak bisa dipisahkan. Pada prinsipnya syari’at
merupakan wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan sunnah Rasul bersifat
fundamental. Sedangkan fiqh bersifat instrumental. Ada tiga sifat hukum islam
yaitu bidimensional, adil serta individualistik dan kemasyarakatan yang diikat
oleh nilai-nilai transental. Hukum islam juga dibagi menjadi dua bidang yaitu
bidang ibadah dan bidang muamalah.
Sumber hukum dibagi menjadi dua yaitu
materil dan formil. Sumber hukum materil merupakan salah satu bidang kajian
filsafat hukum yang menentukan dari mana dan apakah suatu hukum sudah dapat dan
mempunyai kekuatan norma untuk ditaati. Sumber hukum formil berisi tentang
aturan yang merupakan hukum positif seperti UU, adat dsb.
Prinsip dan fungsi hukum pada islam
berpegangan teguh pada tujuh faktor, yang pertama prinsip tauhid, yaitu prinsip
berhubungan langsung dengan Allah dan beban hukum. Yang kedua prinsip keadilan
berarti keseimbangan. Yang ketuga, prinsip Amar Ma’ruf Nahi Munkar berarti
hukum islam digerakkan untuk merekayasa manusia menuju tujuan yang baik atau ridha
Allah. Yang keempat, prinsip kemerdekaan atau kebebasan maksud dari prinsip ini
ialah agar agama dan hukum islam tidak disiarkan berdasarkan paksaan. Yang
keenam, prinsip ta’awun maksudnya yaitu tolong menolong sesama manusia. Yang
ketujuh, yaitu prinsip toleransi. Tujuan hukum islam ada 5 yaitu memelihara
kemaslahatan, agama, jiwa, akal dan keturunan.
Dalam UUD 1945 terlihat dengan jelas
bahwa nilai keagamaan memiliki posisi yang tinggi. Karena rakyat indonesia
mayoritas beragam islam maka UUD 1945 sebagai dasar sumber dasar kehidupan
bangsa Indonesia harus memperhatikan hukum Islam.
Akhlak merupakan penyesuaian hubungannya
dengan yang maha menciptakan yakni Allah SWT. Setiap perbuatan manusia baik
secara individu maupun interaksi sosial tidak bisa terlepas dari pengawasan
Allah SWT. Akhlak akan muncul sesuai dari apa yang manusia perbuat, bergantung
dengan sifat hatinya apabila akhlaknya baik maka akan muncul baik pula dan
sebaliknya. Allah telah berkendak bahwa akhlak (moral) dalam islam memiliki karakteristik
yang berbeda dan unik (istimewa) dari agama Yahudi, Nasrani ataupun keduanya,
yaitu dengan karakteristik yang menjadikannya sesuai untuk setiap individu,
kelas social, ras, lingkungan, masa dan segala kondisi. Etika (moral/ akhlak)
mempunyai karakter seperti halnya moral yang beralasan(argumentatif dan dapat
dipahami; moral universal; kesesuaian dengan fitrah; memperhatikan realita;
moral positif; komprehensifitas; dan tawazun (keseimbangan).
Suatu akhlak akan tebentuk karena
beberapa faktor yang dapat mencetak dan mempengaruhi terbentuknya tingkah laku
manusia dalam pergaulannya. Faktor-faktor tersebut meliputi sifat-sifat bawaan
atau yang dibawa sejak lahir, lingkungan pergaulan, pengaruh yang terjadi di
luar diri manusia karena adanya suatu aksi dan interaksi seperti kebiasaan
manusia dalam bergaul dengan sesamanya, kemauan keras juga termasuk salah satu
faktor yang membuat seseorang berakhlak baik ataupun buruk sebenarnya kehidupan
orang-orang besar dan terkemuka dalam
sejarah hidupnya digerakkan oleh kehendak
yang keras. Itulah salah satu yang menyebabkan kemenangan hidup mereka.
Penerapan akhlak dalam berbagai bidang
kehidupan di perlukan karena akhlak merupakan bagian dan tujuan pendidikan
Islam. Pendidikan yang hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual telah
gagal membawa manusia sebagai khalifah di bumi. Indikator manusia sebagai
makhluk yang berakhlak ditunjukkan dengan
tertanam dalam hatinya iman yang kokoh sehingga mendorong manusia agar
melakukan tasawuf sebagai usaha atau wujud manusia menjadi manusia yang
berakhlakul karimah. Suatu akhlak yang baik akan selalu mengikuti kita jika
dalam menjalani segala sesuatu dengan istiqomah dan riyadhah.
Oleh karena itu hendaknya manusia
memaksakan diri (mujahadah) untuk mengulang-ulang perbuatan yang baik sehingga
menjadi kebiasaan dan akhirnya
terbentuklah akhlak yang baik pada dirinya. Sesungguhnya akhlak, moral
dan etika adalah sama yaitu ajaran tentang baik dan buruk berkaitan dengan sikap hidup manusia. Yang membedakan satu
dengan lainnya adalah sumber kebenaran.
Masyarakat Madani &
Kerukunan Umat Beragama. Masyarakat
madani adalah masyarakat beradap yang menjunjung tinggi nilai-nilai
kemanusiaan, maju dalam penguasaann ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat
madani menjadi simbol idealisme yang diharapkan oleh setiap masyarakat. Kata madania merupakan penyifatan terhadap
kota Madinah, yang sifat yang ditunjukkan oleh kondisi dan sistem kehidupan
yang berlaku di kota Madinah. Mereka hidup rukun, salingmembantu, mentaati
hukum dan menunjukkan kepercayaan penuh terhadap pemimoinnya. Al-Qur’an menjadi
konstitusi untuk menyelesaikan berbagai persoalan di kehidupan.
Masyarakat madani adalah suatu
lingkungan interaksi sosial yang berada di luar pengaruh negara yang tersususn
dari lingkungan masyarakat paling akrab, seperti keluarga, asosiasi-asosiasi
sukarela, dan gerakan kemasyarakatan lainnya.
Pandangan Islam Tentang
Kebudayaan. Kebudayaan
Islam merupakan hasil olah pikir dan karya manusia yang di dasari nilai-nilai
tauhid. Hal ini bertujuan untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal
budinya sehingga bisa menghasilkan kebudayaan yang menjadi peradaban Islam.
Oleh sebab itu, Nabi Muhammad SAW mempunyai misi untuk memberikan bimbingan
kebudayaan yang tidak melepaskan diri dari nilai-nilai ketuhanan.
Kebudayaan Islam bukanlah kebudayaan
yang di ciptakan oleh masyarakat Islam saja, melainkan juga bersumber dari
ajaran Islam. Artinya, kebudayaan bisa jadi muncul dari masyarakat luar Islam
tetapi kebudayaan tersebut sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Kebudayaan Islam
memiliki beberapa karakteristik, antaralain: Rabbaniyah, Akhlaqiyah, Insaniyah,
Alamiyah, Tasamuh, Tanawwu, Wasathiyah, Takamul, dan bangga terhadap diri
sendiri.
Pada awal sejarah kebudayaan Islam,
masjid merupakan sentral kebudayaan Islam, pusat kemasyarakatan, pusat
pendidikan dan tentu untuk kepentingan ibadah. Namun, di jaman modern seperti
sekarang ini, masjid mengalami penyempitan fungsi, yaitu hanya untuk tempat
ritual ibadah saja.
Pengetahuan dan ilmu itu berbeda.Pengetahuan
adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan panca indera,
intuisi, dan firasat. Sedangkan ilmu adalah pengetahuan yang sudah
diklasifikasikan, diorganisasi, disistematisasi, dan diintepetasi sehingga
menghasilkan kebenaran obyektif yang sudah teruji kebenarannya dan dapat diuji
ulang secara ilmiah.Seni merupakan hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan
segala prosesnya.Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang .Pengembangan iptek
adalah hasil dari segala langkah dari pemikiran untuk memperluas, memperdalam,
dan mengembangkan iptek.Diharapkan, ipetek dan seni dapat berjalan searah dan
seiring sejalan dengan nilai-nilai ilahiah.
Berdasarkan tujuan ideologi yang
mendasari hubungan agama dan iptek, terdapat 3 jenis paradigma yaitu :
- Paradigma
sekuler
- Paradigma
sosiali
- Paradigma
islam
Ilmu terdiri dari 2 macam menurut
pandangan islam, yaitu:
- Ilmu
laduni adalah ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia
- Ilmu
kasbi adalah ilmu yang diperoleh karena usaha manusia.
Pandangan Islam Tentang
Ekonomi. Ilmu ekonomi lahir sebagai sebuah
disiplin ilmiah seiring dengan berjalannya aktifitas produksi dan konsumsi.
Ekonomi merupakan aktifitas manusia untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga
kemudian timbul motif ekonomi, yaitu keinginan seseorang untuk memenuhi
kebutuhannya itu.
Islam mengambil suatu kaidah terbaik
antara kedua pandangan yang ekstrim (kapitalis dan komunis) dan mencoba untuk
membentuk keseimbangan di antara keduanya (kebendaan dan rohaniah).
Keberhasilan sistem ekonomi Islam tergantung kepada sejauh mana penyesuaian
yang dapat dilakukan di antara keperluan kebendaan dan keperluan rohani/etika
yang diperlukan manusia. Sumber pedoman ekonomi Islam adalah al-Qur'an dan
sunnah Rasul, yaitu dalam: 1) Surat Al-Ahzab:72 (Manusia sebagai makhluk pengemban amanat Allah). 2) Surat Hud:61 (Untuk memakmurkan kehidupan di
bumi). 3) Surat Al-Baqarah:30 (Tentang kedudukan terhormat sebagai
khalifah Allah di bumi)
Pandangan Islam tentang
Politik. Politik
merupakan pemikiran-pemikiran yang berhubungan dengan mengurus kepentingan
masyarakat. Pemikiran tersebut dapat berupa pedoman, keyakinan, hukum atau
aktivitas-aktivas yang terjadi maupun informasi. Dalam agama islam,
politik juga berperan penting dalam mewujudkan suatu hubungan masyarakat yang
harmoni dan selaras dengan syariat islam demi mewujudkan kemaslahatan umat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar